h1

pengaruh kecerdasan kinestetik terhadap gerak motorik penyandang tuna netra

Desember 22, 2009

PENGARUH LATIHAN KECERDASAN KINESTETIK TERHADAP GERAK MOTORIK  PENYANDANG TUNA NETRA. DI PANTI REHABILITASI CACAT NETRA “BUDIMULYA” MALANG TAHUN 2004-2009

UNIVERSITAS NEGRI MALANG

Malang

2009


BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Memiliki kondisi fisik yang cacat bukanlah hal yang diinginkan oleh setiap individu karena harus menjalani hidup dengan keterbatasan fisik, sehingga dapat menghambat sebagian aktivitas yang harus dilakukan layaknya individu dalam kondisi normal. Menurut soesilo, hasik susenas badan pusat statistik tahun 2004 menunjukkan bahwa jumlah penyandang cacat sebesar 2.063.840 jiwa. Data dari Pusdatin Departemen Sosial Tahun 2006 bahwa penyandang cacat berjumlah 2.810.212 jiwa. Bahkan data berdasarkan susenas 2003, estimasi jumlah penyandang cacat di Indonesia 0,7 % dari jumlah penduduk Indonesia. Sementara estimasi WHO jumlah penyandang cacat di Indonesia adalah 10 % dari jumlah penduduk Indonesia (sumber buku rencana aksi nasional penyandang cacat tahun 2004 – 2013 Indonesia, 2004). Data- data di atas menyebutkan bahwa tidak sedikit jumlah penyandang cacat yang hidup dengan keterbatasan fisik di Indonesia.

Kondisi cacat fisik, salah satunya adalah penyandang tuna netra. Cacat netra tidak hanya dalam kondisi mata mereka yang buta, tetapi mencakup juga kondisi mata mereka yang mampu melihat tapi sangat terbatas dan kurang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan hidup sehari-hari (Soemantri, 2006:72). Keterbatasan dalam melihat mengakibatkan para penyandang cacat netra tidak memiliki gambaran jelas tentang bagaimana menggerakkan anggota tubuh mereka, kemudian memosisikannya dan mengkoordinasikan gerakan tubuh dengan apa yang dipikirkan atau didinginkan, sehingga banyak di antara mereka yang tidak atau kurang memahami konsep dan penampilan diri. Begitu pula dalam hal memperoleh informasi. Terganggunya sistem syaraf pada indra penglihatan, tidak dapat dipungkiri dapat mengurangi perolehan informasi dibandingkan dengan mereka yang memiliki penglihatan normal. Kondisi- kondisi tersebut dapat mempengaruhi proses bergerak maupun berjalan.

Kecerdasan ini ditunjukkan oleh kemampuan seseorang untuk membangun hubungan yang penting antara pikiran dengan tubuh, yang memungkinkan tubuh untuk memanipulasi objek atau menciptakan gerakan. Secara biologi ketika lahir semua bayi dalam keadaan tidak berdaya, kemudian berangsur-angsur berkembang dengan menunjukkan berbagai pola gerakan, tengkurap, “berangkang”, berdiri, berjalan, dan kemudian berlari, bahkan pada usia remaja berkembang kemampuan berenang dan akrobatik. Kecerdasan ini amat penting karena bermanfaat untuk (a) meningkatkan kemampuan psikomotorik, (b) meningkatkan kemampuan sosial dan sportivitas, (c) membangun rasa percaya diri dan harga diri dan sudah barang tentu (d) meningkatkan kesehatan.

Berdasarkan paparan di atas, pengaruh model latihan kecerdasan  kinestetik bagi penyandang tunanetra sangat penting karena kecerdasan kinestetik merupakan salah satu unsur kecerdasan yang dimiliki manusia yang tidak sama kapasitasnya khususnya pada penyandang tunanetra, penulis tertarik berkerjasama ingin meneliti “Hubungan Kecerdasan Kinestetik Terhadap Gerak Motorik Penyandang Tuna Netra. Panti Rehabilitasi Sosial Cacat Netra “BUDIMULYA” Malang Tahun 2005-200 yang merupakan unit pelayanan teknis daerah (UPTD) Dinas Sosial Propinsi Jawa Timur yang mempunyai tugas pokok memberikan pelayanan sosial kepada para penyandang cacat netra di jawa timur.

1.2. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah di kemukakan di pedahuluan,dapat di identifikasikan beberapa masalah sebagai berikut

  1. Apakah terdapat pengaruh latihan kecerdasan kinestetik terhadap gerak motorik?
  2. Mengapa pengaruh latihan kecerdasan kinetik dengan gerak motorik penyandang tuna netra dianggap penting?


1.3.TUJUAN PENELITIAN

Melalui penelitian ini, peneliti mengharapkan manfaat yang akan diperoleh diantaranya:

  1. Untuk mengetahui pengaruh latihan kecerdasan kinestetik terhadap gerak motorik penyandang tuna netra.
  2. Untuk mengetahui pentingnya pengaruh latihan kecerdasan kinestetik terhadap gerak motorik penyandang tuna netra.

1.4. Keterbatasan Masalah

Untuk menghindari agar tidak meluasnya pembahasan, maka penelitian ini dibatasi dengan pada : “Pengaruh latihan Kecerdasan Kinestetik Terhadap Gerak Motorik Penyandang Tuna Netra. Panti Rehabilitasi Sosial Cacat Netra “BUDIMULYA” Malang Tahun 2005-2009.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Latihan

Latihan adalah  suatu program kegiatan fisik yang direncanakan untuk membantu mempelajari keterampilan, memperbaiki kesegaran jasmani, dan terutama untuk mempersiapkan atlet dalam suatu pertandingan penting ( Budiwanto, 2004:12 ).

latihan sebagai aktifitas olahraga yang dilakukan secara sistematis, dalam waktu yang lama ditingkatkan secara progresif dan individual yang mengarah pada perubahan ciri-ciri fisiologis untuk mencapai sasaran yang ditentukan. (Setiawan:2006, 7)

Yuniarto ( 2004:6 ) menuliskan bahwa latihan adalah kegiatan yang disusun secara sistematis dengan tujuan untuk meningkatkan kapasitas fungsional fisik dan penyesuaian diri terhadap pembebanan sehingga mencapai kinerja yang lebih tinggi.

2.2. Pengertian Kecerdasan

Kecerdasan adalah kapasitas untuk menyelesaikan masalah-masalah dan membuat cara penyelesaiannya dalam konteks yang beragam dan wajar Howard Gardner (2001.3)

2.3. Pengertian Kecerdasan Kinestetik

Kecerdasan kinestetik, yakni kemampuan untuk menggunakan seluruh tubuhnya untuk mengekspresikan ide-ide dan perasaan-perasaan atau menggunakan tangan-tangan untuk menghasilkan dan mentransformasikan sesuatu.  Kecerdasan ini mencakup keahlian-keahlian fisik khusus seperti koordinasi, keseimbangan, ketangkasan, kekuatan, kelenturan dan kecepatan. Howard Gardner (2001.3)


2.4. Pengertian Motorik

Motorik merupakan perkembangan pengendalian geraka tubuh melalui gerakan yang trkordinir antara susunan saraf, otot, otak, dan spinal cord. Pekembangan motorik meliputi motorik kasar dan motorik halus.

Motorik kasar adalah gerakan tubuh yang menggunakan otot-otot besar atau sebagian besar atau seluruh anggota tubuh yang dipengaruhi oleh kematangan anak itu sendiri.

Sedangkan motorik halus adalah gerakan yang menggunakan otot-otot halus atau sebagian anggota tubuh tertentu ang dipengaruhi oleh kesempatn untuk

belajar dan berlatih

Tabel 2.1. Keerangan Kcersadan Berdasarkan Lokasi Pada Norologis Otak

Kecerdasan Lokasi pada sistem neurologis (area-area utama) otak Jalur perkembangan Hasilnya

yang dihargai budaya

Tubuh fisik Cerebellum, ganglia basal, korteks motorik. Beragam tergantung komponen (kekuatan, kelenturan, dsb) atau kelompok (senam, basebal, pantomim, dsb). Karya-karya, kemampuan-kemampuan atletik, karya-karya drama, bentuk-bentuk tarian, pahatan, dsb.

Tabel 2.2. keterangan kecerdasan berdasarkan sejarah

Kecerdasan

Asal-usul evolusi Bukti keberadaan di spesies lain Bekas pada sejarah manusia

Tubuh fisik

Bukti adanya penggunaan peralatan purbakala. Alat-alat yang digunakan hewan-hewan primata, dan spesies-spesies lain. Lebih penting pada masa agraris.

2.5. Latihan Kecerdasan Kinestetik

Fisik atau tubuh manusia merupakan sistem organ yang kompleks dan sangat mengagumkan. semua organ ini terbentuk pada periode prenatal (dalam kandungan). khu Yusuf (2002) mengemukakan bahwa perkembangan fisik individu meliputi empat aspek, yaitu:

  1. Sistem saraf yang sangat mempengaruhi perkembangan kcerdasan dan emosi
  2. Otot-otot yang mempengaruhi perkembngan kekuatan dan kemampuan motorik
  3. Kelenjar endokrin, yang menyebabkan munculnya pola-pola tingkah laku baru, seperti pada remaja berkembang persaan senang untuk aktif dalam suatu kegiatan yang sebagian anggotanya terdiri atas lawan jenis
  4. Struktur tubuh yang meliputi tinggi, beratdan proporsi.

Kecerdasan kinestetik berhubungan erat dengan motorik. Motorik merupakan perkembangn pengendalian gerakan tubuh melalui kegiata yang terkoordinir antara susunan saraf, otot, otak, dan spinal cord. Perkembangan motorik meliputi motorik kasar motorik halus. Motorik kasar adalah gerakan tubuh yang menggunakan otot-otot besar atau sebagian besar atau seluruh anggota tubuh yang dipengaruhi oleh kematangan anak itu sendiri.

Sedangkan motorik halus adalah gerakan yang menggunakan otot-otot halus atau sebagian anggota tubuh tertentu ang dipengaruhi oleh kesempatn untuk belajar dan berlatih misalnya, kemampuan kemempuan memindahkan benda dari tangan, mencoret-coret menyusun balok, menggunting, menulis, dan sebagainya. Kemampuan trsebut sangt penting agar penyandang tuna netra bisa berkembang dngan optimal.

Tabel. 2.3 Model Pembelajaran Kecerdasan Kinestetik

Tubuh fisik melalui sensasi-sensasi somatik tarian, berlari, melompat, membangun, menyentuh, dsb. Permainan peran, drama, gerakan, benda-benda yang bisa dibangun, olahraga dan permainan-permainan fisik, belajar langsung, dsb.

2.6 Pengertian Tuna Netra

Menurut buku petunjuk teknis pelaksanaan penanganan masalah sosial (1999:2) penyandang cacat netra adalah orang yang tidak dapat menghitung jari – jari tengah pada jarak satu meter di depanya dengan menggunakan indra penglihatan.

WHO menyebutkan penyandang tuna netra merupakan orang yang derajat ketajaman pengelihatanya pada jarak terbaik setelah koreksi maksimal tidak lebih daripada kemampuan untuk menghitung jari pada jarak tiga meter.

Sementara itu, persatuan tunanetra Indonesia mengartikan penyandang tuna netra adalah mereka yang tidak memiliki penglihatan sama sekali (buta total) hingga mereka yang masih memiliki sisa pengelihatan tetapi tidak mampu menggunakan penglihatan untuk membaca tulisan biasa berukuran 12 poin dalam keadaan cahaya normal meskipun dibantu dengan kaca mata/ kurang awas (Pertuni , Agustus: 2007).

Pada umumnya yang digunakan sebagai patokan apakah seseorang termasuk tunanetra tidak ialah berdasarkan pada tingkat ketajaman pengelihatannya. Untuk mengetahui ketunanetraan dapat digunakan suatu tes yang dikenal sebagi tes snellencard. Perlu ditegaskan bahwa dikatakan tunanetra bila ketajaman penglihatannya (visual) kurang dari 6/21. artinya, berdasarkan tes orang hanya mampu membaca huruf  pada jarak 6 meter dapat dibaca pada jarak 21 meter (Soemantri , 2006:65).

Berdasarkan acuan tersebut,anak tunanetra dapat di kelompokkan menjadi dua macam,yaitu(Soementri ,2006:66)

Di katakan buta jika sama sekali tidak mampu menerima rangsang cahaya dari liar (visisunya =0).

Tunanetra memiliki keterbatasan dalam penglihatan antara lain:

  1. Tidak dapat melihat gerakan tangan pada jarak kurang dari 1 meter.
  2. Ketajaman penglihatan 20/200 kali yaitu ketajaman yang mampu melihat suatu benda pada jarak 20 kaki.
  3. bidang penglihatnya tidak lebih luas dari 20°(Depdikas,22/03/2008).

Low vision

Bila masih mampu menerima rangsa cahaya dari luar, tetapi ketajaman lebih dari 6/21,aatau jika hanya mampu membaca headline pada surat kabar

Berdasarkan definisi World Health Organization (WHO),seseorang dikatakan low vision apabila:

  1. Memiliki kelainan fungsi penglihatan meskipun telah dilakukan pengobatan, misalnya operasi atau koreksi refleksi standar (kacamata atau lensa).
  2. Mempunyai ketajaman kurang dari 6/18 sampai menerima resepsi cahaya.
  3. Lias penglihatan kurang dari10 derajat dari titik fiksasi (Depdiknas,22/03/2008)

Dari beberapa pendapat diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa penyandang tunanetra adalah mereka yeng memiliki keterbatasan (cacat) pada indra penglihatan baik total (totally blid) maupun masih memiliki sisah penglihatan (liw vision)

Klasifikasi Tunanetra

Menurut direktorat pembinaan sekolah lur biasa (Depdiknas,22/03/2008), kelasifikasi tunanetra secara garis besar  dibagi empat yaitu:

  1. Berdasarkan waktu terjadinya ketunanetraan
  1. Tunanetra sebelum dan sejak lahir,yakni yang mereka asma sekali tidak memiliki pengalaman penglihatan.
  2. Tunanetra setelah lahir atau pasausia kecil;mereka telah memiliki kesan-kesan serta pengalaman visual tetapi belum kuat da mudah terlupakan.
  3. Tunanetra pada usia sekolah atau pada masa remaja mereka telah memiliki kesan-kesan visual dan meninggalkan pengaruh yang mendalam terhadap peroses perkembangan pribadi.
  4. Tunanetra pada usia dewasa pada umumnya mereka yang dengan segala kesadaran mampu melakukan latihan-latiha penyesuaian diri.
  5. Tunanera dalam usua lanjut, sebagia besar sudah sulit untuk mengikuti latihan-latihan kecerdasan kinestetik yang berpengaruh terhadap gerak motorik seseorang penyandang tuna netra.
  1. Berdasarkan kemampuan daya penglihatan
  1. Tunanetra ringan (defective vision/low vision);yakni mereka yang memiliki hambatan dalam penglihatan akan tetapi mereka masih dapat mengikuti perogram-program pendidikan dan pampu melakukan pekerjaan/kegiatan yang mengunakan fungsi penglihatan.
  2. Tunanetra setengah berat (partially sighted);yakni mereka yang kehilagan sebagian daya penglihat,hanya menggunakan kaca pembesar.mereka mampu mengikuti pendidikan biasa atau mampu membaca tulisan yang ercatak tebal.
  3. Tunanetra berat(totally blind);yakni mereka yang sama ssekali tidak dapat melihat.
  4. Berdasarkan pemeriksaan klinis
    1. Tunanera yang memiliki ketajaman penglihatan kurang dari 20/200 dan atau memiliki bidang penglihatan kurang dari 20 derajat.
    2. Tunanera yang memiliki ketajaman penglihatan kurang dari 20/200 dan atau memiliki bidang penglihatan kurang dari 20 derajat.

4.  Berdasarka kelainak-kelainan pada mata

  1. Mayopia : adalah penglihatan jarak dekat, bayak yang tidak tetfokuds dan jatuh di belakang retina.penglihata akan terlihat jelas kalau objek didekatka. Untuk membantu peroses penglihatan pada penderita mayopi digunakan kacamata koreksi dengan lensa negatif.
  2. Hyperopia : adalah penglihatan jarak jauh,banyak yang tidak terfokus da jatuh didepa retina. Penglihatan akan terlihat jelas jika objek dijauhkan. Untuk menbantu peroses pemulihan pada penderita heyperopia digunakan kacamata koreksi dengan lensa posotif.
  3. Astigmatisme : adalah penyimpanan atau peglihatan kabur yang disebabka karna kerusaka pada kornea mata atau pada permukaan lain pada bola mata sehingga banyak benda baik pada jarak dekat maupun jauh tidak erfokus jatuh pada retina. Untuk membantu peroses pemulihan pada penderita astigmatesme digunakan kacamata koreksi dengan lensa selinder.

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Rancangan Penelitian

Metode penelitian ini adalah penelitian eksperimental .  Adapun rancangan penelitiannya adalah the nonrandomized control group pretest postest design. Secara skematis dapat digambarkan sebagai berikut:

Subyek             pra tes              perlakuan         pasca tes

S1                               —                      P                       T1

R

S2                                —                      —                     T2

R  =  Proses pengambilan acak untuk menentukan kelompok eksperimen

dan kelompok kontrol

S1 = Kelompok latihan kecerdasan kinestetik

S2 = Kelompok control

T1 = Pasca tes kelompok latihan kecerdasan kinestetik

P   = Perlakuan latihan kecerdasan kinestetik

T2 = pasca tes kelompok kontrol

3.2 Subyek Penelitian

Subyek yang digunakan dalam penelitian ini adalah penyandang tuna neta di Panti Rehabilitasi Sosial Cacat Netra “BUDIMULYA” Malang, yang berkelamin laki-laki berumur 20 tahun sejumblah 6 orang. Dibagi menjadi 2 kelompok, 3 orang untuk kelompok kontrol, 3 orang untuk kelompok yang diberi perlakuan.

3.5 Instrumen Penelitian

Pada penelitian ini, instrumen yang digunakan adalah program latihan permainan yang dapat merangsang kecerdasan kinestetik di antaranya bergerak dan berpikir dalam waktu bersamaan  yang digunakan untuk memberikan perlakuan pada subyek penelitian,

Instrumen lainnya adalah angket observasi yang digunakan untuk mengukur tingkat kecerdasan kinestetik pada sampel penelitian

3. 4 Teknik Pengumpulan Data

  • Subyek penelitian dari kelompok kontrol diberikan perlakuan lari continues secara teratur, dengan:

Lama latihan   : 8 minggu

Frekuensi        : 3 kali perminggu

Prinsip latihan : overload

  • Setelah 8 minggu, semua subyek penelitian, baik kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen, diukur tingkat kecerdasannya nenggunkan angket obsrvasi yang sudah disediakan. Semua data dari subyek penelitian dibandingkan antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen

3.5 Teknik Analisa Data Penelitian.

Semua data yang terkumpul dianalisa menggunakan Uji anava, untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh latihan bermain yang dat merangsang kecerdasan kinestetik. Uji anava  yang dengan  taraf  signifikansi 5 %

Tabel 3.1 Rumus Analisis Varian

Sumber Variasi

(SV)

Jumlah Kuadrat

(JK)

Derajat Bebas

(db)

Mean Kuadrat
Kelompok (K) JKK = ∑(∑XK)2 _ (∑XT)2

nK N

dbK = K-1 MKK = JKK

dbK

Dalam (d) JKd = JKT-JKK dbd = N – K MKD = JKd

dbd

Total (T) JKT = ∑XT2 –  (∑XT)2

N

dbT = N – 1 ___

Keterangan :

nK = Jumlah subjek dalam kelompok

K = Jumlah kelompok

N = Jumlah subjek keselruhan

Fhit = MKK

MKD

BAB IV

PENUTUP

  1. 1. KESIMPULAN
    1. Penyandang tuna netra adalah mereka yang memiliki keterbatasan (cacat) pada indra penglihatan baik total maupun masih memiliki sisa penglihatan.
    2. Gerakan-gerakan olahraga (stretching dan kalestenik) pada dasarnya adalah sama, perbedaannya hanya pada perlakuan oleh pembina terhadap klien yang harus lebih terkontrol.
    3. Pelatihan kecerdasan kinesetik sangat berpengaruh dengan gerak motorik seseorang khususnya penyandang tuna netra karena pelatihan tersebut bertujuan untuk menciptakan trobosan baru bagi penyandang tuna netra agar mereka tiak bergantung dan hanya mengandalkan bantuan orang lain untuk bermobilitas dan bergerak kemapun dia inginkan.
  1. 2. SARAN

Saran yang dapat diberikan penulis berkaitan dengan observasi yang dilakukan, sebagai berikut :

  1. Kepada Penyandang Tuna Netra, diharapkan agar selalu berfikir tentang hal-hal positif tentang dirinya dan optimis dalam menghadapi segala situasi dan perubahan, sehingga dapat lebih mudah dalam mengaktualisasikan kemampuan diri.
  2. Kepada anggota keluarga dan masyarakat, diharapkan agar memperlakukan para penyandang tuna netra sebagaimana memperlakukan orang yang tidak memiliki keterbatasan fisik dan tidak menjauhi mereka.


DAFTAR PUSTAKA

h1

sport education

November 3, 2009
Background

The importance of outreach

National strategies for addressing climate change can only succeed with the full engagement of the general public and important interest groups, or “stakeholders,” such as businesses and local policymakers. Since governments are directly responsible for only a small proportion of greenhouse gas emissions (GHGs), they must persuade businesses, communities and individuals to adjust their activities in a way that reduces their direct emissions. Otherwise, it will not be possible to realize the Convention’s objective and the Protocol’s targets.

Governments have several tools at their disposal for gaining public support. Policies can be used to raise the cost of activities that emit GHGs and reduce the costs of similar activities that do not. Regulations and standards can mandate changes in products and practices. Taxes and subsidies can be adjusted to influence behaviour. Such policies and measures, however, can engender opposition, particularly from those concerned about the imposition of a new cost. Public information and education is therefore vital for generating public support for such policies. It can also encourage voluntary changes in habits that will lead to lower emissions.

Many governments, intergovernmental and non-governmental organizations (IGOs and NGOs) are already working actively to raise awareness. The scale of changes required, however, and the vast number of people and interests that must be influenced, call for outreach activities of a greater magnitude.

How the Convention and the Kyoto Protocol respond

The UN Convention on Climate Change recognizes this reality: under Article 6 on Education, Training and Public Awareness, it calls on governments to promote the development and implementation of educational and public awareness programmes, promote public access to information and public participation, and promote training of scientific, technical and managerial personnel.

The Kyoto Protocol builds on this and calls on Parties to cooperate in and promote, at the national and international levels, the development and implementation of educational and training programmes, including the strengthening of national capacity building; and to facilitate, at the national level, public awareness and public access to information ((PDF) Article 10 (e)).

Paving the way for action

At COP 8 (New Delhi, October/November 2002), Parties adopted the “New Delhi work programme on Article 6 of the Convention ((PDF) decision 11/CP.8), a five-year country-driven work programme engaging all stakeholders, and recommending a list of activities that could be undertaken at the national level to facilitate the implementation of Article 6 activities.

To further develop and implement the New Delhi work programme, Parties requested the secretariat to:

* facilitate regional workshops that could advance the work on assessing needs, identifying priorities, sharing experience and exchanging information on related activities; and

* work on an information clearing house that would include information on existing resources.

To date, four regional workshops have been organised in Europe, Africa, Latin America and the Caribbean, and Asia and the Pacific, and an additional workshop dedicated to the Small island developing States (SIDS) more>>

The prototype information network clearing house (CC:iNet) was launched at COP 11, November 2005, in Montreal.

Recent developments

The SBI, at its twenty-seventh session (Bali, December 2007), recognized that The five-year New Delhi work programme has proved to be a good framework for action, and the COP, at its thirteenth session (Bali, December 2007) adopted the amended New Delhi work programme for a further five years. A review of the work programme will be undertaken in 2012, with an intermediate review of progress in 2010, to evaluate its effectiveness and identify emerging gaps.

The SBI also assessed the usefulness and relevance of the prototype clearing house (CC:iNet) and recognized it as an important tool for promoting the implementation of Article 6. The secretariat was invited to further enhance CC:iNet in line with the evaluation report (FCCC/SBI/2007/26).

Based on the success of previous regional workshops, which have helped to advance the New Delhi work programme, the secretariat was also mandated to organize thematic regional and subregional workshops to share lessons learned and best practices, prior to the intermediate review of the work programme in 2010.

The first of the series, the European Regional workshop, was held in Stockholm, Sweden, from 18 to 20 May. Over 40 participants representing 23 countries and several intergovernmental and non-governmental organizations shared experiences and good practices in developing and implementing national education and outreach strategies and activities, and discussed the importance of such activities in supporting a new climate change agreement. After 2 and a half days of plenary sessions, working groups and social events, participants came up with recommending a list of issues that could be considered in supporting further the implementation of Article 6 and the New Delhi work programme in the European region. more>>

The regional workshop for Asia and the Pacific took place from 14 to 16 Ocotber 2009 in Bali, Indonesia. There were over 50 participants representing 31 Asia Pacific countries, intergovernmental organizations (IGOs) such as UNESCO and UNITAR and national and regional experts from non-governmental organizations (NGOs) including the Youth Constituency to the UNFCCC process.

The first day and half of the Workshop was dedicated to sharing information and experiences, while the end of day 2 and throughout day 3 participants engaged in interactive learning sessions to define good practices to implement Article 6 of the UNFCCC in the Asia Pacific region. The participants were able to determine good practices to raise awarenes and promote training opportunities about climate change such as integrating climate change to the national educational curriculum, including education and training in the national development plans, recognizing experiential learning as a concrete tool to engage diverse communities, targeting children and youth as key audiences, and identifying champions in society to help disseminate the message such as other ministries, parliamentarians, business, press and media, NGOs and community groups. It was noted that these good practices must be holistic, measurable and country-driven. It was emphasized that regional and international efforts to galvanize efforts to implement Article 6 need to focus on specfic goals and have concrete added value to involved Parties. more>>

last modified: 26 October 2009

 

h1

MSDM

Oktober 20, 2009

 

SDM untuk SDM

Dalam melakukan SDM untuk SDM, ada tiga hal terpisah yang masih berhubungan dalam pekerjaan yang harus di pahami yaitu:

  1. Strategic SDM
  2. Strategi SDM, dan
  3. Organisasi SDM.

Strategic SDM adalah proses dari hubungan praktek SDM pada strategi bisnis. Manajer lini menjalankan fungsi SDM dan strategic SDM. Strategic SDM menciptakan sebuah proses untuk berpindah dari strategi bisnis ke kemampuan berorganisasi pada praktek SDM.
Strategi SDM berbicara tentang membangun sebuah agenda pada fungsi SDM. Strategi SDM membuat sebuah tujuan dan fokus pada fungsi SDM.
Organisasi SDM adalah proses menegenal dan mengembangkan sebuah fungsi SDM untuk menyampaikan servis SDM. Organisasi SDM adalah penerapan yang dilaksanakan oleh eksekutif SDM pada Profesional SDM.

STRATEGIC SDM : PENYUSUNAN STRATEGI BISNIS PADA PRIORITAS SDM

Manajer perusahaan menggunakan strategi utama dalam melakukan strategic SDM, penyusunan strategi bisnis dalam menjalankan hasil SDM. Perumusan strategi menyajikan tiga tujuan. Yaitu :

  1. strategi membicarakan sebuah petunjuk masa depan untuk bisnis atau kata lain sebuah visi, maksud, tujuan, misi atau tinjauan masa depan.
  2. perumusan masalah mengalokasikan sumberdaya. Perusahaan mempunyai sumberdaya, dimana berfokus pada bermacam-macam tujuan. Sejak beberapa perusahaan mempunyai sumberdaya yang cukup untuk bekerja pada stakeholder, dimana pengalokasian sumberdaya harus dibuat.
  3. perumusan strategi menjelaskan janji yang memrefleksikan komitmen yang dibuat dalam diskusi perumusan strategi.

Proses perumusan strategi, eksekutif mengembangkan visi masa depan, mengalokasikan sumberdaya untuk merealisasikan visi, dan berjanji pada stakeholder untuk mencapai tujuannya.

Mengulangi perumusan tanpa mengimplementasikan probabilitas menjadi salah satu tujuan utama dari tugas strategic SDM. Strategic SDM sering dihubungkan dengan strategi bisnis pada tindakan SDM dengan menggambarkan kemampuan untuk mengkritik yang dibutuhkan pada suatu perusahaan untuk menjadi sukses.

STRATEGI SDM: PEMBENTUKAN FUNGSI SDM

Ketika strategi SDM memastikan bahwa sebuah perusahaan mempunyai sumberdaya yang penting untuk menyelesaikan tujuan bisnis perusahaan, strategi SDM menggambarkan penciptaan nilai oleh fungsi SDM.

Langkah 1: menggambarkan suatu arsitektur organisasional

  1. Shared Mindset: tingkat untuk Fungsi sumber daya manusia memiliki suatu mindset bersama atau identitas umum
  2. Competence : tingkat untuk Fungsi sumber daya manusia yang diorganisir oleh individu yang mempunyai pengetahuan, ketrampilan, dan kemampuan untuk melaksanakan pekerjaan sekarang dan yang akan datang.
  3. Consequence : tingkat yang mana sistem manajemen untuk dicapai yang digunakan oleh sumber daya manusia Para profesional memusatkan pada hasil dan perilaku.
  4. Governance : tingkat yang mana Fungsi sumber daya manusia mempunyai hubungan efektif, komunikasi, pengambilan keputusan, dan kebijakan.
  5. Work process / Capacity for change : tingkat untuk mana Fungsi sumber daya manusia dalam latihan dan penyesuaian dan pemahaman dan peningkatan proses.
  6. Leadership : tingkat untuk kepemimpinan yang efektif yang menyebar keseluruh bagian Fungsi sumber daya manusia.

Langkah 2: menciptakan suatu proses penilaian
Hasil diagnosa Suatu sumber daya manusia menyarankan audit atau penilaian untuk mengidentifikasi dari sumber daya manusia Organisasi.

Langkah 3: menyediakan sumber daya manusia Organisasi
Fungsi sumber daya manusia berlaku bagi kepada dirinya sendiri model praktek Sumber daya manusia. Ketika ini terjadi, praktek ini menjadi bangunan blok menyangkut Sumber daya manusia organisasi.

Langkah 4: prioritas yang di-set
Langkah 4 hasil diagnosa organisasional menentukan prioritas perhatian dari Sumber daya manusia pada beberapa isu kritis. Fungsi dapat menetapkan prioritas untuk mengembangkan praktek Sumber daya manusia. Praktek ini membangun infrastruktur dari Fungsi sumber daya manusia efektif dan implementastion Sumber daya manusia strategis.

 

 

 

h1

how are you to day?

Oktober 20, 2009

selamat datang di blog faries

kamu bisa dapat info perkuliahan pendidikan jasmani kesehatan dan rekreasi disini…

Baca entri selengkapnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.