h1

pengaruh kecerdasan kinestetik terhadap gerak motorik penyandang tuna netra

Desember 22, 2009

PENGARUH LATIHAN KECERDASAN KINESTETIK TERHADAP GERAK MOTORIK  PENYANDANG TUNA NETRA. DI PANTI REHABILITASI CACAT NETRA “BUDIMULYA” MALANG TAHUN 2004-2009

UNIVERSITAS NEGRI MALANG

Malang

2009


BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Memiliki kondisi fisik yang cacat bukanlah hal yang diinginkan oleh setiap individu karena harus menjalani hidup dengan keterbatasan fisik, sehingga dapat menghambat sebagian aktivitas yang harus dilakukan layaknya individu dalam kondisi normal. Menurut soesilo, hasik susenas badan pusat statistik tahun 2004 menunjukkan bahwa jumlah penyandang cacat sebesar 2.063.840 jiwa. Data dari Pusdatin Departemen Sosial Tahun 2006 bahwa penyandang cacat berjumlah 2.810.212 jiwa. Bahkan data berdasarkan susenas 2003, estimasi jumlah penyandang cacat di Indonesia 0,7 % dari jumlah penduduk Indonesia. Sementara estimasi WHO jumlah penyandang cacat di Indonesia adalah 10 % dari jumlah penduduk Indonesia (sumber buku rencana aksi nasional penyandang cacat tahun 2004 – 2013 Indonesia, 2004). Data- data di atas menyebutkan bahwa tidak sedikit jumlah penyandang cacat yang hidup dengan keterbatasan fisik di Indonesia.

Kondisi cacat fisik, salah satunya adalah penyandang tuna netra. Cacat netra tidak hanya dalam kondisi mata mereka yang buta, tetapi mencakup juga kondisi mata mereka yang mampu melihat tapi sangat terbatas dan kurang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan hidup sehari-hari (Soemantri, 2006:72). Keterbatasan dalam melihat mengakibatkan para penyandang cacat netra tidak memiliki gambaran jelas tentang bagaimana menggerakkan anggota tubuh mereka, kemudian memosisikannya dan mengkoordinasikan gerakan tubuh dengan apa yang dipikirkan atau didinginkan, sehingga banyak di antara mereka yang tidak atau kurang memahami konsep dan penampilan diri. Begitu pula dalam hal memperoleh informasi. Terganggunya sistem syaraf pada indra penglihatan, tidak dapat dipungkiri dapat mengurangi perolehan informasi dibandingkan dengan mereka yang memiliki penglihatan normal. Kondisi- kondisi tersebut dapat mempengaruhi proses bergerak maupun berjalan.

Kecerdasan ini ditunjukkan oleh kemampuan seseorang untuk membangun hubungan yang penting antara pikiran dengan tubuh, yang memungkinkan tubuh untuk memanipulasi objek atau menciptakan gerakan. Secara biologi ketika lahir semua bayi dalam keadaan tidak berdaya, kemudian berangsur-angsur berkembang dengan menunjukkan berbagai pola gerakan, tengkurap, “berangkang”, berdiri, berjalan, dan kemudian berlari, bahkan pada usia remaja berkembang kemampuan berenang dan akrobatik. Kecerdasan ini amat penting karena bermanfaat untuk (a) meningkatkan kemampuan psikomotorik, (b) meningkatkan kemampuan sosial dan sportivitas, (c) membangun rasa percaya diri dan harga diri dan sudah barang tentu (d) meningkatkan kesehatan.

Berdasarkan paparan di atas, pengaruh model latihan kecerdasan  kinestetik bagi penyandang tunanetra sangat penting karena kecerdasan kinestetik merupakan salah satu unsur kecerdasan yang dimiliki manusia yang tidak sama kapasitasnya khususnya pada penyandang tunanetra, penulis tertarik berkerjasama ingin meneliti “Hubungan Kecerdasan Kinestetik Terhadap Gerak Motorik Penyandang Tuna Netra. Panti Rehabilitasi Sosial Cacat Netra “BUDIMULYA” Malang Tahun 2005-200 yang merupakan unit pelayanan teknis daerah (UPTD) Dinas Sosial Propinsi Jawa Timur yang mempunyai tugas pokok memberikan pelayanan sosial kepada para penyandang cacat netra di jawa timur.

1.2. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah di kemukakan di pedahuluan,dapat di identifikasikan beberapa masalah sebagai berikut

  1. Apakah terdapat pengaruh latihan kecerdasan kinestetik terhadap gerak motorik?
  2. Mengapa pengaruh latihan kecerdasan kinetik dengan gerak motorik penyandang tuna netra dianggap penting?


1.3.TUJUAN PENELITIAN

Melalui penelitian ini, peneliti mengharapkan manfaat yang akan diperoleh diantaranya:

  1. Untuk mengetahui pengaruh latihan kecerdasan kinestetik terhadap gerak motorik penyandang tuna netra.
  2. Untuk mengetahui pentingnya pengaruh latihan kecerdasan kinestetik terhadap gerak motorik penyandang tuna netra.

1.4. Keterbatasan Masalah

Untuk menghindari agar tidak meluasnya pembahasan, maka penelitian ini dibatasi dengan pada : “Pengaruh latihan Kecerdasan Kinestetik Terhadap Gerak Motorik Penyandang Tuna Netra. Panti Rehabilitasi Sosial Cacat Netra “BUDIMULYA” Malang Tahun 2005-2009.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Latihan

Latihan adalah  suatu program kegiatan fisik yang direncanakan untuk membantu mempelajari keterampilan, memperbaiki kesegaran jasmani, dan terutama untuk mempersiapkan atlet dalam suatu pertandingan penting ( Budiwanto, 2004:12 ).

latihan sebagai aktifitas olahraga yang dilakukan secara sistematis, dalam waktu yang lama ditingkatkan secara progresif dan individual yang mengarah pada perubahan ciri-ciri fisiologis untuk mencapai sasaran yang ditentukan. (Setiawan:2006, 7)

Yuniarto ( 2004:6 ) menuliskan bahwa latihan adalah kegiatan yang disusun secara sistematis dengan tujuan untuk meningkatkan kapasitas fungsional fisik dan penyesuaian diri terhadap pembebanan sehingga mencapai kinerja yang lebih tinggi.

2.2. Pengertian Kecerdasan

Kecerdasan adalah kapasitas untuk menyelesaikan masalah-masalah dan membuat cara penyelesaiannya dalam konteks yang beragam dan wajar Howard Gardner (2001.3)

2.3. Pengertian Kecerdasan Kinestetik

Kecerdasan kinestetik, yakni kemampuan untuk menggunakan seluruh tubuhnya untuk mengekspresikan ide-ide dan perasaan-perasaan atau menggunakan tangan-tangan untuk menghasilkan dan mentransformasikan sesuatu.  Kecerdasan ini mencakup keahlian-keahlian fisik khusus seperti koordinasi, keseimbangan, ketangkasan, kekuatan, kelenturan dan kecepatan. Howard Gardner (2001.3)


2.4. Pengertian Motorik

Motorik merupakan perkembangan pengendalian geraka tubuh melalui gerakan yang trkordinir antara susunan saraf, otot, otak, dan spinal cord. Pekembangan motorik meliputi motorik kasar dan motorik halus.

Motorik kasar adalah gerakan tubuh yang menggunakan otot-otot besar atau sebagian besar atau seluruh anggota tubuh yang dipengaruhi oleh kematangan anak itu sendiri.

Sedangkan motorik halus adalah gerakan yang menggunakan otot-otot halus atau sebagian anggota tubuh tertentu ang dipengaruhi oleh kesempatn untuk

belajar dan berlatih

Tabel 2.1. Keerangan Kcersadan Berdasarkan Lokasi Pada Norologis Otak

Kecerdasan Lokasi pada sistem neurologis (area-area utama) otak Jalur perkembangan Hasilnya

yang dihargai budaya

Tubuh fisik Cerebellum, ganglia basal, korteks motorik. Beragam tergantung komponen (kekuatan, kelenturan, dsb) atau kelompok (senam, basebal, pantomim, dsb). Karya-karya, kemampuan-kemampuan atletik, karya-karya drama, bentuk-bentuk tarian, pahatan, dsb.

Tabel 2.2. keterangan kecerdasan berdasarkan sejarah

Kecerdasan

Asal-usul evolusi Bukti keberadaan di spesies lain Bekas pada sejarah manusia

Tubuh fisik

Bukti adanya penggunaan peralatan purbakala. Alat-alat yang digunakan hewan-hewan primata, dan spesies-spesies lain. Lebih penting pada masa agraris.

2.5. Latihan Kecerdasan Kinestetik

Fisik atau tubuh manusia merupakan sistem organ yang kompleks dan sangat mengagumkan. semua organ ini terbentuk pada periode prenatal (dalam kandungan). khu Yusuf (2002) mengemukakan bahwa perkembangan fisik individu meliputi empat aspek, yaitu:

  1. Sistem saraf yang sangat mempengaruhi perkembangan kcerdasan dan emosi
  2. Otot-otot yang mempengaruhi perkembngan kekuatan dan kemampuan motorik
  3. Kelenjar endokrin, yang menyebabkan munculnya pola-pola tingkah laku baru, seperti pada remaja berkembang persaan senang untuk aktif dalam suatu kegiatan yang sebagian anggotanya terdiri atas lawan jenis
  4. Struktur tubuh yang meliputi tinggi, beratdan proporsi.

Kecerdasan kinestetik berhubungan erat dengan motorik. Motorik merupakan perkembangn pengendalian gerakan tubuh melalui kegiata yang terkoordinir antara susunan saraf, otot, otak, dan spinal cord. Perkembangan motorik meliputi motorik kasar motorik halus. Motorik kasar adalah gerakan tubuh yang menggunakan otot-otot besar atau sebagian besar atau seluruh anggota tubuh yang dipengaruhi oleh kematangan anak itu sendiri.

Sedangkan motorik halus adalah gerakan yang menggunakan otot-otot halus atau sebagian anggota tubuh tertentu ang dipengaruhi oleh kesempatn untuk belajar dan berlatih misalnya, kemampuan kemempuan memindahkan benda dari tangan, mencoret-coret menyusun balok, menggunting, menulis, dan sebagainya. Kemampuan trsebut sangt penting agar penyandang tuna netra bisa berkembang dngan optimal.

Tabel. 2.3 Model Pembelajaran Kecerdasan Kinestetik

Tubuh fisik melalui sensasi-sensasi somatik tarian, berlari, melompat, membangun, menyentuh, dsb. Permainan peran, drama, gerakan, benda-benda yang bisa dibangun, olahraga dan permainan-permainan fisik, belajar langsung, dsb.

2.6 Pengertian Tuna Netra

Menurut buku petunjuk teknis pelaksanaan penanganan masalah sosial (1999:2) penyandang cacat netra adalah orang yang tidak dapat menghitung jari – jari tengah pada jarak satu meter di depanya dengan menggunakan indra penglihatan.

WHO menyebutkan penyandang tuna netra merupakan orang yang derajat ketajaman pengelihatanya pada jarak terbaik setelah koreksi maksimal tidak lebih daripada kemampuan untuk menghitung jari pada jarak tiga meter.

Sementara itu, persatuan tunanetra Indonesia mengartikan penyandang tuna netra adalah mereka yang tidak memiliki penglihatan sama sekali (buta total) hingga mereka yang masih memiliki sisa pengelihatan tetapi tidak mampu menggunakan penglihatan untuk membaca tulisan biasa berukuran 12 poin dalam keadaan cahaya normal meskipun dibantu dengan kaca mata/ kurang awas (Pertuni , Agustus: 2007).

Pada umumnya yang digunakan sebagai patokan apakah seseorang termasuk tunanetra tidak ialah berdasarkan pada tingkat ketajaman pengelihatannya. Untuk mengetahui ketunanetraan dapat digunakan suatu tes yang dikenal sebagi tes snellencard. Perlu ditegaskan bahwa dikatakan tunanetra bila ketajaman penglihatannya (visual) kurang dari 6/21. artinya, berdasarkan tes orang hanya mampu membaca huruf  pada jarak 6 meter dapat dibaca pada jarak 21 meter (Soemantri , 2006:65).

Berdasarkan acuan tersebut,anak tunanetra dapat di kelompokkan menjadi dua macam,yaitu(Soementri ,2006:66)

Di katakan buta jika sama sekali tidak mampu menerima rangsang cahaya dari liar (visisunya =0).

Tunanetra memiliki keterbatasan dalam penglihatan antara lain:

  1. Tidak dapat melihat gerakan tangan pada jarak kurang dari 1 meter.
  2. Ketajaman penglihatan 20/200 kali yaitu ketajaman yang mampu melihat suatu benda pada jarak 20 kaki.
  3. bidang penglihatnya tidak lebih luas dari 20°(Depdikas,22/03/2008).

Low vision

Bila masih mampu menerima rangsa cahaya dari luar, tetapi ketajaman lebih dari 6/21,aatau jika hanya mampu membaca headline pada surat kabar

Berdasarkan definisi World Health Organization (WHO),seseorang dikatakan low vision apabila:

  1. Memiliki kelainan fungsi penglihatan meskipun telah dilakukan pengobatan, misalnya operasi atau koreksi refleksi standar (kacamata atau lensa).
  2. Mempunyai ketajaman kurang dari 6/18 sampai menerima resepsi cahaya.
  3. Lias penglihatan kurang dari10 derajat dari titik fiksasi (Depdiknas,22/03/2008)

Dari beberapa pendapat diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa penyandang tunanetra adalah mereka yeng memiliki keterbatasan (cacat) pada indra penglihatan baik total (totally blid) maupun masih memiliki sisah penglihatan (liw vision)

Klasifikasi Tunanetra

Menurut direktorat pembinaan sekolah lur biasa (Depdiknas,22/03/2008), kelasifikasi tunanetra secara garis besar  dibagi empat yaitu:

  1. Berdasarkan waktu terjadinya ketunanetraan
  1. Tunanetra sebelum dan sejak lahir,yakni yang mereka asma sekali tidak memiliki pengalaman penglihatan.
  2. Tunanetra setelah lahir atau pasausia kecil;mereka telah memiliki kesan-kesan serta pengalaman visual tetapi belum kuat da mudah terlupakan.
  3. Tunanetra pada usia sekolah atau pada masa remaja mereka telah memiliki kesan-kesan visual dan meninggalkan pengaruh yang mendalam terhadap peroses perkembangan pribadi.
  4. Tunanetra pada usia dewasa pada umumnya mereka yang dengan segala kesadaran mampu melakukan latihan-latiha penyesuaian diri.
  5. Tunanera dalam usua lanjut, sebagia besar sudah sulit untuk mengikuti latihan-latihan kecerdasan kinestetik yang berpengaruh terhadap gerak motorik seseorang penyandang tuna netra.
  1. Berdasarkan kemampuan daya penglihatan
  1. Tunanetra ringan (defective vision/low vision);yakni mereka yang memiliki hambatan dalam penglihatan akan tetapi mereka masih dapat mengikuti perogram-program pendidikan dan pampu melakukan pekerjaan/kegiatan yang mengunakan fungsi penglihatan.
  2. Tunanetra setengah berat (partially sighted);yakni mereka yang kehilagan sebagian daya penglihat,hanya menggunakan kaca pembesar.mereka mampu mengikuti pendidikan biasa atau mampu membaca tulisan yang ercatak tebal.
  3. Tunanetra berat(totally blind);yakni mereka yang sama ssekali tidak dapat melihat.
  4. Berdasarkan pemeriksaan klinis
    1. Tunanera yang memiliki ketajaman penglihatan kurang dari 20/200 dan atau memiliki bidang penglihatan kurang dari 20 derajat.
    2. Tunanera yang memiliki ketajaman penglihatan kurang dari 20/200 dan atau memiliki bidang penglihatan kurang dari 20 derajat.

4.  Berdasarka kelainak-kelainan pada mata

  1. Mayopia : adalah penglihatan jarak dekat, bayak yang tidak tetfokuds dan jatuh di belakang retina.penglihata akan terlihat jelas kalau objek didekatka. Untuk membantu peroses penglihatan pada penderita mayopi digunakan kacamata koreksi dengan lensa negatif.
  2. Hyperopia : adalah penglihatan jarak jauh,banyak yang tidak terfokus da jatuh didepa retina. Penglihatan akan terlihat jelas jika objek dijauhkan. Untuk menbantu peroses pemulihan pada penderita heyperopia digunakan kacamata koreksi dengan lensa posotif.
  3. Astigmatisme : adalah penyimpanan atau peglihatan kabur yang disebabka karna kerusaka pada kornea mata atau pada permukaan lain pada bola mata sehingga banyak benda baik pada jarak dekat maupun jauh tidak erfokus jatuh pada retina. Untuk membantu peroses pemulihan pada penderita astigmatesme digunakan kacamata koreksi dengan lensa selinder.

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Rancangan Penelitian

Metode penelitian ini adalah penelitian eksperimental .  Adapun rancangan penelitiannya adalah the nonrandomized control group pretest postest design. Secara skematis dapat digambarkan sebagai berikut:

Subyek             pra tes              perlakuan         pasca tes

S1                               —                      P                       T1

R

S2                                —                      —                     T2

R  =  Proses pengambilan acak untuk menentukan kelompok eksperimen

dan kelompok kontrol

S1 = Kelompok latihan kecerdasan kinestetik

S2 = Kelompok control

T1 = Pasca tes kelompok latihan kecerdasan kinestetik

P   = Perlakuan latihan kecerdasan kinestetik

T2 = pasca tes kelompok kontrol

3.2 Subyek Penelitian

Subyek yang digunakan dalam penelitian ini adalah penyandang tuna neta di Panti Rehabilitasi Sosial Cacat Netra “BUDIMULYA” Malang, yang berkelamin laki-laki berumur 20 tahun sejumblah 6 orang. Dibagi menjadi 2 kelompok, 3 orang untuk kelompok kontrol, 3 orang untuk kelompok yang diberi perlakuan.

3.5 Instrumen Penelitian

Pada penelitian ini, instrumen yang digunakan adalah program latihan permainan yang dapat merangsang kecerdasan kinestetik di antaranya bergerak dan berpikir dalam waktu bersamaan  yang digunakan untuk memberikan perlakuan pada subyek penelitian,

Instrumen lainnya adalah angket observasi yang digunakan untuk mengukur tingkat kecerdasan kinestetik pada sampel penelitian

3. 4 Teknik Pengumpulan Data

  • Subyek penelitian dari kelompok kontrol diberikan perlakuan lari continues secara teratur, dengan:

Lama latihan   : 8 minggu

Frekuensi        : 3 kali perminggu

Prinsip latihan : overload

  • Setelah 8 minggu, semua subyek penelitian, baik kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen, diukur tingkat kecerdasannya nenggunkan angket obsrvasi yang sudah disediakan. Semua data dari subyek penelitian dibandingkan antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen

3.5 Teknik Analisa Data Penelitian.

Semua data yang terkumpul dianalisa menggunakan Uji anava, untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh latihan bermain yang dat merangsang kecerdasan kinestetik. Uji anava  yang dengan  taraf  signifikansi 5 %

Tabel 3.1 Rumus Analisis Varian

Sumber Variasi

(SV)

Jumlah Kuadrat

(JK)

Derajat Bebas

(db)

Mean Kuadrat
Kelompok (K) JKK = ∑(∑XK)2 _ (∑XT)2

nK N

dbK = K-1 MKK = JKK

dbK

Dalam (d) JKd = JKT-JKK dbd = N – K MKD = JKd

dbd

Total (T) JKT = ∑XT2 –  (∑XT)2

N

dbT = N – 1 ___

Keterangan :

nK = Jumlah subjek dalam kelompok

K = Jumlah kelompok

N = Jumlah subjek keselruhan

Fhit = MKK

MKD

BAB IV

PENUTUP

  1. 1. KESIMPULAN
    1. Penyandang tuna netra adalah mereka yang memiliki keterbatasan (cacat) pada indra penglihatan baik total maupun masih memiliki sisa penglihatan.
    2. Gerakan-gerakan olahraga (stretching dan kalestenik) pada dasarnya adalah sama, perbedaannya hanya pada perlakuan oleh pembina terhadap klien yang harus lebih terkontrol.
    3. Pelatihan kecerdasan kinesetik sangat berpengaruh dengan gerak motorik seseorang khususnya penyandang tuna netra karena pelatihan tersebut bertujuan untuk menciptakan trobosan baru bagi penyandang tuna netra agar mereka tiak bergantung dan hanya mengandalkan bantuan orang lain untuk bermobilitas dan bergerak kemapun dia inginkan.
  1. 2. SARAN

Saran yang dapat diberikan penulis berkaitan dengan observasi yang dilakukan, sebagai berikut :

  1. Kepada Penyandang Tuna Netra, diharapkan agar selalu berfikir tentang hal-hal positif tentang dirinya dan optimis dalam menghadapi segala situasi dan perubahan, sehingga dapat lebih mudah dalam mengaktualisasikan kemampuan diri.
  2. Kepada anggota keluarga dan masyarakat, diharapkan agar memperlakukan para penyandang tuna netra sebagaimana memperlakukan orang yang tidak memiliki keterbatasan fisik dan tidak menjauhi mereka.


DAFTAR PUSTAKA

About these ads

One comment

  1. kecerdasan kinestetik tergantung dari cereblum, masing masing seseorang



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: